Selasa, 05 Mei 2015

KEBISINGAN



KEBISINGAN
 

A. DEFINISI


Bunyi:
·         Perubahan tekanan dalam atmosfir yang dapat dirambatkan dan dapat diterima telinga atau suatu getaran yang dapat didengar oleh telinga.
·         Menurut Achmadi (1994) suara atau bunyi merupakan bentuk gelombang getaran suara yang merambat sebagai gelombang longitudinal dalam medium padat, cair dan gas.

Kebisingan:
·         Adalah suara/bunyi yang tidak diinginkan atau suatu rangsangan pada telinga berupa getaran-getaran yang melalui media elastis yang menghasilkan bunyi-bunyi yang tidak dikehendaki
·         Doelle (1993) menyatakan bahwa bising adalah semua bunyi yang mengalihkan perhatian, mengganggu atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari seperti bekerja, istirahat, belajar atau dapat dikatakan bahwa bising adalah bunyi atau suara yang tidak diinginkan dan tidak enak didengar
·         Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat, proses produksi dan atau alat-alat yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Kep Menaker Nomor:51/1999)
·         Menurut PERMENKES RI No.718/MENKES/PER/XI/1987, kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu dan atau membahayakan kesehatan
·         Suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang sederhana dari beraneka frekuensi  yang tidak dikehendaki
·         Bising di tempat kerja adalah semua bunyi atau suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat produksi di tempat kerja
Ø  Ada 3 hal dalam kebisingan yang perlu diketahui:
  1. Frekuensi:
ü  Adalah panjang gelombang suara  atau jumlah atau banyaknya getaran per detik ( tinggi rendahnya bunyi ditentukan oleh frekuensi bunyi tersebut.
ü  Satuan: Hertz ( Hz) atau cps = cycle per second
ü  Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia mulai 16 Hz s.d. 20.000 Hz
ü  Frekuensi di bawah 16 Hz disebut Infra sonic
ü  Frekuensi di atas 20.000 Hz disebut Ultra sonic
ü  Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 340 m/detik
ü  Makin tinggi frekuensi makin pendek gelombang bunyinya
ü  Ketulian terjadi pada 3.000 – 6.000 Hz

  1. Intensitas
ü  Adalah besarnya tekanan yang dipindahkan oleh bunyi, makin besar intensitas bunyi maka makin keras pula bunyi itu terdengar
ü  Arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut Decibell (dB)
ü  Bunyi terlemah yang dapat terdengar oleh telinga adalah 0 dB
ü  Bunyi terkuat adalah 130 dB

  1. Lama Terpajan
ü  Berapa lama seseorang terpajan dapat dalam jam
ü  Bagaimana intensitasnya apakah terus menerus, atau kadang-kadang.

Alat Ukur Kebisingan
Ø  Alat untuk mendeteksi kebisingan adalah Sound Level Meter
Ø  Didalam alat Sound Level Meter dilengkapi dengan 3 macam ukuran:
  1. Skala A: untuk mengukur respon karakteristik telinga untuk tingkat kebisingan rendah 35 – 135 dB
  2. Skala B: mengukur respon karakteristik telinga kebisingan sedang 40 – 135 dB
  3. Skala C: mengukur respon karakteristik telinga untuk kebisingan tinggi 45 – 135 dB
Ø  Alat tersebut mampu mengukur intensitas kebisingan antara 30 – 130 db dan frekuensi dari 16  - 20.000 Hz

B. JENIS KEBISINGAN

  1. Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas (Steady State Wide Band Noise). Misalnya suara kipas angin, suara mesin, pembangkit tenaga listrik
  2. Kebisingan kontinu dengan spektrum yang sempit (Steady State Narrow Band Noise). Misalnya bunyi gergaji, bunyi katup-katup gas
  3. Kebisingan yang terputus-putus (Intermittent). Misalnya lalu-lintas kendaraan bermotor, bunyi kereta api, bunyi mesin pesawat udara.
  4. Kebisingan impulsif (Impact or Impulsive Noise). Misalnya pukulan palu, tembakan meriam, ledakan bom, bedil
  5. Kebisingan impulsif berulang misalnya pemasangan mesin tempa pada pemancangan tiang beton.

 

C. ANATOMI TELINGA

Dalam memahami gangguan pendengaran, maka sebelumnya perlu diketahui dan dipelajari anatomi dan mekanisme pendengaran.
Alat pendengaran adalah  sepasang telinga kanan dan kiri yang masing-masing terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1.    Telinga bagian luar.
2.    Telinga bagian tengah atau cavum tymphani.
3.    Telinga bagian dalam atau labyrinth.
Telinga Luar
Bagian-bagian dari telinga luar adalah daun telinga dan saluran telinga (External auditory meatus). Daun telinga berfungsi untuk mengumpulkan getaran-getaran dari luar/udara yang menghasilkan bunyi. Istilah daun telinga dalam kedokteran adalah auricle adalah organ tubuh yang terdiri dari tulang rawan elastin dan dilapisi kulit
Liang telinga adalah saluran telinga berbentuk huruf S yang mempunyai rata-rata 2 – 3 cm dengan diameter   0.75 cm yang berfungsi sebagai tempat berlalunya gelombang dan memperkeras suara dengan cara beresonansi. Sepertiga bagian luar  terdiri dari tulang rawan dan dua pertiganya terdiri dari tulang. Disepertiga luar  saluran telinga terdapat rambut yang berfungsi menahan debu dan kotoran, dan juga terdapat kelenjar pembersih (kelenjar serumen) modifikasi dari kelenjar keringat yang gunanya adalah agar saluran telinga licin atau tidak kering dan mencegah masuknya serangga. Kelenjar pembersih ini terdapat hampir disepanjang saluran telinga dimana disepertiga dalamnya hanya sedikit dijumpai kelenjar ini. Sehingga di dalam saluran telinga sering dijumpai debu dan kotoran. Nama lain dari saluran telinga adalah Meatus acusticus externus yang akan menyalurkan getaran-getaran tersebut dari dasar daun telinga kepada membran tymphani.
Kelainan telinga luar yang biasa terjadi adalah terjadinya tumor pada liang telinga, sumbatan karena kotoran di liang telinga, benda asing di liang telinga serta adanya peradangan.

Telinga Tengah
Telinga bagian tengah terletak di dalam osteo temporale dan terdiri atas:
-       Cavum tympani
-       Recessus epi tympani.
Dalam cavum tympani merupakan suatu ruangan yang berisi udara yang terbawa masuk melalui ductus auditorius yang bermuara di nasopharynx di dalamnya terdapat tiga tulang pendengar yaitu malleus/tulang martil, incus/tulang landasan, dan stapes/tulang sanggurdi yang secara berantai melanjutkan getaran-getaran yang diterima membrana tymphani menuju bagian dalam telinga.
Pada telinga tengah terdapat gendang telinga/selaput telinga, adalah lapisan yang sangat tipis dan merupakan membrana yang halus yang dapat rusak oleh suara bising yang terus menerus, ledakan atau perubahan tekanan udara. Jika gendang telinga rusak atau robek makan akan terjadi dislokasi dari tulang telinga. Untuk memperbaikinya dapat dilakukan dengan cara dioperasi. Tulang martil/malleus menempel pada selaput telinga atau gendang telinga.
Masalah yang paling sering terjadi pada telinga bagian dalam ini adalah terkena infeksi, terjadi pertumbuhan yang abnormal (oto sclerose) yang penyebabnya tidak diketahui dengan pasti tetapi diduga faktor heriditer.

Telinga Dalam
Telinga bagian dalam teridiri dari cochlea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah canalis semisicularis. Ujung atau puncak cochlea disebut helikotrema.
Di dalam cochlea terdapat spiral organ dari corti. Disini terdapat saluran-saluran yang saling berhubungan yang dinamakan membrana labirynth yang berisi cairan endolymph dan sel rambut yang berfungsi untuk mengetahui dan
menganalisa suara yang masuk kedalam telinga dan menerjemahkannya kedalam impuls syaraf untuk diteruskan ke otak. Sel-sel rambut di dalam cochlea dapat rusak karena pertambahan usia, penyakit, obat-obatan atau karena terpapar bising. Bagian lain dari telinga bagian dalam adalah membranous labyrinth yang berisi endolymphe.

D. MEKANISME PENDENGARAN

            Gelombang suara yang tertangkap oleh telinga bagian luar/daun telinga akan ditampung kemudian diteruskan ke membran tymphani melalui meatus acucticus internus dan menyebabkan membrana tymphani tersebut ikut bergetar.
Di telinga bagian tengah suara/getaran diterima oleh gendang telinga sebagian dipantulkan dan sebagian lagi diteruskan ke tulang-tulang pendengaran (malleus, incus dan stapes) dimana akan terjadi resonansi (pengerasan suara).
Getaran akan diteruskan ketelinga bagian dalam, akibat getaran ini terjadi gerakan bergelombang dari perilymphe yang mana gelombang tersebut akan menjalar dari basic cochlea menuju apex dan seterusnya ke canalis tymphani dan berakhir pada foramen rotundum.
Gelombang yang ditimbulkan oleh cairan perlymphe akan menyebabkan distorsi membrana vestibularis (Reissener) dan membran basilaris dari ductus cochlearis beserta isi ductus yaitu organon corti dan menyebabkan “ hair cell” terangsang. Impuls kemudian akan diteruskan ke otak melalui ujung syaraf cochlearis sehingga suara tersebut terdengar.

E.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKURANGNYA PENDENGARAN KARENA KEBISINGAN:
1.    Intensitas bising
Nada dengan 1.000 getaran perdetik atau 1.000 Hz dengan intensitas 85 dB, jika diperdengarkan selama 8 jam tidak akan membahayakan.

2.    Frekuensi bising
Bising dengan frekuensi tinggi lebih berbahaya dari pada bising berfrekuensi rendah

3.    Sifat bising
Bising yang didengar terus menerus lebih berbahaya dari bising yang sifatnya terputus-putus.

4.    Waktu di luar lingkungan bising
Waktu kerja di lingkungan bising diselingi dengan bekerja beberapa jam sehari di lingkungan tenang, akan mengurangi bahaya mundurnya pendengaran. Karena kondisi lingkungan sekitar juga akan berpengaruh apakah menambah  atau mengurangi intensitas bising yang diterima.


5.    Lamanya berada dalam lingkungan bising
Semakin lama berada  dalam lingkungan bising, akan semakin bertambah bahaya untuk pendengaran. NAB di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Negara Tenaga Kerja Nomor:KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Fisika di Tempat Kerja dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 1
Tingkat kebisingan dan Lama Pemaparan

No
Lama Pemaparan Sehari
(jam)
Tingkat Kebisingan
(dB)
1
8
85
2
4
88
3
2
91
4
1
94

(menit)

5
30
97
6
15
100
7
7.5
103
8
3.75
106
9
1.88
109
10
0.94
112

6.    Kepekaan individual
Kepekaan individual adalah tergantung dari kondisi perorangan dan dipengaruhi juga oleh beberapa faktor seperti  jenis kelamin, ras, penyakit kardiovaskular, merokok, riwayat keturunan

7.    Umur
Orang yang berumur lebih dari 30 tahun akan lebih mudah menjadi tuli akibat bising hal ini juga disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi penurunan dari pendengaran, (Encyclopaedia of Occupational Health & Safety, 1983).

8.    Lama masa kerja
Seorang pekerja yang berada di lingkungan yang bising dan bekerja 8 jam  seharinya akan mengalami gangguan pendengaran setelah yang bersangkutan berada di lingkungan tersebut selama 3 – 4 tahun.

F. EFEK KEBISINGAN

1.    Auditor (Pengaruh terhadap pendengaran)
Pengaruh utama dari kebisingan adalah kerusakan pada indera pendengaran dimana akan menyebabkan kerusakan yang bersifat progresif. Gejala awal berupa kerusakan yang bersifat sementara dimana akan terjadi pemulihan secara cepat bila terhindar dari kondisi bising. Pemulihan dapat berlangsung lebih lama bahkan dapat terjadi kerusakan menetap bila tetap berada pada suasana bising terus menerus.

Efek kebisingan pada indera pendengaran dapat berupa (Olishifski,          1994):
a.    Adaptasi (reversible)
Jika kita memasuki ruangan yang bising, maka ambang pendengaran kita akan naik, sehingga bising tidak akan mengganggu lagi. Setelah meninggalkan ruangan bising itu, pendengaran kita menjadi kurang, lama kelamaan akan normal kembali.
b.    Persistent Threshold Shift.
Ini adalah meningginya ambang pendengaran lebih lama lagi. Sekurang-kurangnya 48 jam setelah meninggalkan lingkungan bising itu, pendengaran yang bersangkutan akan terganggu.
c.    Temporary Threshold Shift (TTS).

Bilamana seseorang masuk ke tempat kerja yang bising, maka mula-mula orang tersebut akan merasa terganggu dengan adanya kebisingan tadi. Namun, setelah beberapa jam berada di tempat tersebut, orang itu akan merasa tidak begitu terganggu lagi atau dengan kata lain orang itu telah mengalami ketulian. Namun bilamana orang itu keluar dari tempat kerja yang bising, daya dengarnya sedikit demi sedikit akan kembali seperti semula. Jadi gangguan pendengaran yang dialami sifatnya sementara. Waktu yang diperlukan untuk pemulihan kembali adalah berkisar dari beberapa menit sampai beberapa hari (3 - 7 hari).


d.    Permanent Threshold Shift (PTS).
Bilamana seorang pekerja  terpapar bising kembali sebelum pemulihan secara lengkap, maka akan terjadi akumulasi sisa ketulian (TTS) dan bila hal ini berlangsung secara berulang dan menahun, sifat ketulian itu akan berubah menjadi menetap (permanen). PTS sering juga disebut NIHL (Noise Induce Hearing Loss) dan NIHL ini umumnya terjadi setelah pemaparan 10 tahun atau lebih dan karena PTS ini terjadi perlahan-lahan, maka biasanya penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita ketulian. NIHL adalah ketulian yang bertambah secara perlahan-lahan setelah waktu yang lama sebagai akibat terpajan bising dengan intensitas tinggi secara terus-menerus biasanya disertai tinnitus (bunyi berdenging pada telinga).
Contoh penurunan pendengaran yang permanen selain dapat terjadi secara fisiologis dapat pula karena kebisingan:
-          Proses penuaan (Presbycusis)
-          Sociocusis: pemaparan yang konstan oleh kebisingan yang tinggi (kerusakan sel syaraf kecil di dalam telinga dalam)
-          Trauma akustik: gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pemaparan tunggal terhadap intensitas kebisingan yang sangat tinggi dan terjadi secara tiba-tiba sehingga terjadi kerusakan pada telinga luar, gendang telinga sebagai contoh: ledakan bom. Pada trauma akustik, dapat terjadi robekan pada membrana tympani, dislokasi atau kerusakan pada tulang-tulang pendengaran dan sel-sel sensoris dari organon corti sehingga gambaran audiogram pada trauma akustik sering menunjukan flat response (kombinasi tuli konduktif dan perseptif/tuli syaraf).



2.    Non Auditor (pengaruh yang bukan terhadap pendengaran)
Adalah pengaruh kebisingan yang tidak berhubungan langsung dengan sistem pendengaran, tetapi berpengaruh pada sistem kerja tubuh lainnya. Adapun gangguan tersebut adalah
a. Gangguan Fisiologis
-          Pengaruhnya berupa gangguan faal pernapasan, sistem kardiovaskuler, pencernaan, kelenjar, syaraf, sehingga efek yang ditimbulkan dapat berupa: keadaan mudah tersinggung, cepat marah, perut mual, kepala pusing, cepat merasa lelah, gangguan konsentrasi, penurunan daya kerja, kontraksi pembuluh darah, pelebaran pupil, ketegangan otot, kehilangan keseimbangan, mempercepat kelelahan
-          Kebisingan tinggi akan meningkatkan ACTH dan kortikosteroid dengan akibat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, frekuensi pernapasan, gangguan sistem pencernaan
b. Gangguan Daya Kerja
Kebisingan mempunyai efek merugikan pada daya kerja seperti dapat terjadi kecelakaan ditempat kerja, absensi kerja, mengganggu efisiensi dan produktivitas tenaga kerja, kenyamanan kerja, konsentrasi kerja, gangguan komunikasi, tingkah laku.

G. JENIS KETULIAN (Boeis, 1997)

  1. Tuli Konduktif (Conductive Hearing Loss)
Adalah gangguan transmisi suara di telinga bagian luar dan tengah. Penyebabnya adalah: kekauan stapes, distruksi dari tulang pendengaran, penebalan membran timphani akibat infeksi kronis, atau disebabkan radang telinga tengah akut/menahun  (Otitis Media Acuta/Chronica).
  1. Tuli Perseptif (Sensorineural Hearing Loss)
Tuli yang disebabkan kelainan pada telinga bagian dalam (pada syaraf pendengaran). Penyebabnya adalah dapat berupa:
-          Degenerasi toksik persyarafan yang disebabkan karena obat (streptomycin, quinine, neomycin)
-          Tumor pada nervous acusticus
-          Infeksi otak (meningitis, encephalitis)
-          Virus (mumps)
-          Gangguan vaskular pada pusat otak (medula oblongata)
  1. Mixed Hearing Loss
Merupakan kerusakan gabungan pada komponen konduktif dan sensorik
  1. Central Hearing Loss
Kerusakan pada susunan syaraf pusat (otak) pada nucleus auditory dan cortex otak. Gejala yang sering ditimbulkan adalah sulit mengintepretasikan apa yang didengar
  1. Psychogenic Hearing Loss
Kelainan non organik sehingga pada pemeriksaan ditemukan gejala berupa keadaan  pura-pura atau tidak jujur

H. PENGENDALIAN KEBISINGAN

            Program pengendalian kebisingan harus dilakukan terhadap tiga unsur utama dari kebisingan yaitu pada sumber kebisingan/energi, jalur transmisi,  penerimanya dan administrasi.
1.    Pada sumber (Noise Sources)
Melakukan Engineering control; memodifikasi tata letak peralatan yang menimbulkan bising, meredam getaran, memfiksasi alat, mengganti dengan peralatan baru, memperbaiki disain akustik, melakukan perawatan mesin, merubah metode proses kerja
  1. Transmisi
-          Memperpanjang jarak antara sumber dan penerima, dibuat penghalang/sekat/pembatas.
-          Umumnya pembatas terdiri dari selubung berlapis 2 ditengahnya diisi dengan bahan isolasi akustik setebal 50-100 mm yang terbuat dari serat gelas, mineral wool atau polyurethana
-          Memasang peredam getaran antara mesin dan lantai

  1. Penerima (mengurangi bunyi yang diterima pekerja)
Bila semua upaya untuk mengatasi kebisingan di daerah kerja masih belum dapat menurunkan kebisingan di bawah nilai ambang batas yang diperkenankan, maka harus dilakukan perlindungan terhadap pekerja dengan menggunakan alat pelindung telinga
Pemakaian alat pelindung telinga pada pekerja seperti (Barbara 1996):
    1. Ear plug/Aural Insert (sumbat telinga)
-          Dapat menurunkan intensitas bising sebesar 25 – 30 dB
-          Dapat satu kali pemakaian (Formable)
-          Terdiri dari 2 material terpisah yang akan mengeras setelah dicampur (Custom molded)
    1. Ear muff /Circumaural ( penutup telinga)
-          Menurunkan intensitas bising sebesar 30 – 40 dB
-          Dapat menutupi seluruh daun telinga, keringat akan membuat seal dari earmuffs mengeras
    1. Helm Type protector
Alat yang menutupi kepala kecuali muka dibagian dalam dilengkapi dengan ear muff dan earphone cushions
    1. Superaural/Canal Caps
Menutup lubang telinga dengan menggunakan karet yang diletakkan pada head band yang mana akan menekan kedalam lubang telinga

  1. Pengendalian Administratif
-          Setiap prosedur yang bertujuan untuk membatasi pemaparan bising melalui pengendalian rencana kerja misalnya rotasi pekerja, pengadaan ruang kontrol, pengaturan jam kerja, pergantian shift atau jam kerja, menempatkan pekerja jauh dari sumber bising, membatasi/mengurangi jam kerja, penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan yang terkait

-          Pengendalian melalui penraturan dan perundang-undangan
    1. Pengendalian berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEP-51/MEN/1999, 16 April 1999 tentang NAB Kebisingan
    2. Zona bising menurut DepKes
1.    Zona A: rumah sakit, tempat perawatan, tempat sosial: 35 – 45 dB
2.    Zona B: perumahan, pendidikan, rekreasi: 45- 55 dB
3.    Zona C: perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar: 50 – 60 dB
4.    Zona D: industri, stasiun kereta api, terminal: 60 – 70 dB
    1. Intensitas bising berdasarkan International Air Transportation Association (IATA)
1.    Zona A: intensitas > 150 dB daerah berbahaya harus dihindari
2.    Zona B: 135 – 150 dB individu yang terpapar perlu memakai ear muff dan ear plug
3.    Zona C: 115 – 135 dB perlu memakai ear muff
4.    Zona D: 100 -- 115 dB perlu memakai ear plug

I. INTENSITAS BISING PADA INDUSTRI

  1. 85 – 100 dB: Pabrik tekstil, gergaji mekanis, bor listrik, mesin penggilingan
  2. 100 – 115 dB: Pabrik pengalengan, ruang ketel
  3. 115 – 130 dB: Mesin disel besar, mesin turbin, pesawat terbang dengan mesin turbo, kompresor, sirine
  4. 130 – 160 dB: Mesin jet, roket, peledakan

J. PEMERIKSAAN KETAJAMAN PENDENGARAN

a. Test Dengan Menggunakan Garpu Tala.

  1. Cara Weber
Pada pemeriksaan ini dipakai garpu tala berfrekuensi 256 Hz. pertama-tama garpu tala digetarkan dengan cara mengetukkan benda yang keras, kemudian garpu tala diletakkan pada vertek yang diperiksa. Pada orang yang normal pendengarannya, yang mana getaran tersebut terdengar sama kerasnya pada kedua telinga. Apabila bunyi garpu tala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan kearah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi.

  1. Cara Rinne
Pada pemeriksaan ini, dilakukan perbandingan hantaran udara dengan hantaran tulang. Pada  orang normal pendengarannya, hantaran udara lebih panjang daripada  hantaran tulang. Caranya yaitu; alas garpu tala yang sudah digetarkan diletakkan pada processus mastoideus orang yang akan diperiksa. Kemudian ditanyakan apakah garpu tala tidak terdengar lagi, setelah itu garpu tala dipindahkan ke depan telinga luarnya (meatus acusticus externus).
Pada orang normal, getaran masih terdengar ke arah depan telinga luarnya, kondisi ini disebut Rinne positif. Bila getaran garpu tala tidak terdengar, maka hal ini disebut Rinne negatif, artinya ada kelainan hantaran udara (tuli konduktif)

  1. Cara Schwabch
Pada pemeriksaan ini, dilakukan perbandingan hantaran tulang pada yang akan diperiksa dengan hantaran tulang pemeriksa yang dianggap mempunyai hantaran tulang normal. Garpu tala yang telah digetarkan diletakkan pada processus mastoideus yang diperiksa. Setelah getaran garpu dinyatakan tidak terdengar lagi, garpu tala dipindahkan ke processus mastoideus pemeriksa. Bila pemeriksa juga tidak mendengar lagi getaran garpu tala tersebut, maka disebut Schwabach sama. Bila yang diperiksa masih mendengar suara garpu tala, maka disebut Schwabach memendek, artinya yang diperiksa menderita kelainan syaraf (tuli perseptif)

b.Tes Audiometer

Pemeriksaan audiometer dilakukan dalam kamar khusus (sound proof room). Frekuensi yang digunakan adalah 125, 250, 500, 750, 1.000, 2.000, 3.000, 4.000, 6.000, 8.000 Hz dengan intensitas 0 – 100 dB (A).
Penderita yang akan diperiksa diminta duduk di dalam kamar khusus yang mempunyai jendela kaca sehingga bisa terlihat dari luar oleh pemeriksa. Sebelumnya penderita telah diberi petunjuk bahwa apabila mendengar sesuatu nada maka penderita diminta untuk mengangkat tangannya dan menurunkannya kembali sesudah nada tadi tidak terdengar lagi. Earphone warna merah pada telinga sebelah kanan dan yang warna biru pada telinga sebelah kiri, kemudian pintu kamar khusus tersebut ditutup. Intensitas atau tingkat kebisingan diatur pada 0 dB dan kontrol frekuensi misalnya pada 500 Hz. Kemudian tingkat kebisingan dinaikkan setiap kali sebesar 5 dB sampai ada tanda bahwa penderita mendengar sesuatu nada, selanjutnya perhitungan dapat dimulai. Bila nada tidak terdengar lagi, maka tingkat kebisingan dinaikkan lagi 5 dB, demikian seterusnya mulai dari 500 Hz sampai 8.000Hz. Kemudian response yang didapat pada tingkat tertentu dicatat pada kartu yang telah disediakan. Untuk telinga kanan response dicatat dengan tanda 0 memakai warna merah, dan untuk response telinga kiri dengan tanda X memakai warna biru. Hasil gambaran dari pemeriksaan audiometer disebut audiogram.
      Ada juga jenis audiometer yang dilengkapi alat yang dapat mencatat sendiri gambaran audiogramnya secara otomatis pada kertas yang sudah disediakan.
Menurut American National Standard Institute/ANSI) mengatakan bahwa gangguan pendengaran karena kebisingan terdapat pada frekuensi 3.000 Hz, 6.000 Hz dan terutama pada frekuensi 4.000 Hz.

K. KELUHAN-KELUHAN YANG SERING TERJADI

  1. Gangguan pendengaran
-          keluhan pada satu/kedua telinga
-          timbulnya tiba-tiba/bertambah secara bertahap
-          ada riwayat trauma
-          pemakaian obat/penyakit
  1. Suara berdenging/Tinnitus
-          dapat berdenging di satu/kedua sisi telinga
  1. Rasa pusing yang berputar/vertigo
-          apakah disertai rasa mual, muntah
-          apakah ada penyakit yang diderita
  1. Rasa nyeri dalam telinga/Otalgia
-          dapat berasal dari radang di gigi, sendi, tonsil, pharingitis
  1. Keluar cairan dari telinga/Otore
-          sekret/cairan keluar dari satu/dua sisi telinga
-          sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar
-          sekret yang banyak umumnya berasal dari infeksi telinga tengah
-          bila bercampur darah dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau adanya tumor
-          bila yang keluar adalah cairan jernih waspada adanya cairan otak yang keluar

DAFTAR  PUSTAKA

Beaglehole, R, Bonita R, Kjellstrom,T, Epidemiologi Principle Book 1-3, WHO, Geneva, 1993
Canter, W, Larry, Environmental Impact Assessment,New York, Mc Graw-Hill, Series in Water Resources and Environmental Engineering, 1977
Dit.Jen. PPM & PLP, Kebisingan dan Pengawasan Ditinjau dari Sudut Peraturan Perundang-undangan, Depkes RI, Jakarta, 1995
Dit.Jen. PPM & PLP, Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Kebisingan, Depkes RI., Jakarta 1995
Kryter, Karl D, The Effect of Noise on Man, Academic Press, Inc, NY, 1985
Iskandar, Nurbaiti, Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok,Jakarta, FKUI, 1933


Viewers^^

Visitors, all I want to say thanks! ^^

Flag Counter

Search This Blog

hits

Popular Posts

MUSIC

Profile

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers